jateng.jpnn.com, SEMARANG - Gang Seroja Dalam III di Karangkidul, Kota Semarang, bukan kawasan industri. Namun, di salah satu rumah di gang itu, deru belasan mesin jahit menyala nyaris setiap hari. Dari ruangan sempit itulah Haearra tumbuh menjadi salah satu UMKM yang paling sibuk dalam dua tahun terakhir ini.
Pemilik usaha rumahan yang bergerak di bisnis pakaian anak itu adalah pasangan muda Enrico Chandra (33) dan Amanda (28).
Beberapa tahun lalu, kehidupan Enrico tidak ada hubungannya dengan dunia tekstil. Dia bekerja sebagai kontraktor bangunan. Proyek datang dan pergi, dan Enrico menjalani rutinitas itu dengan cukup stabil. Namun, pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Proyek berhenti, pembayaran tertunda, dan jadwal kerja menghilang satu per satu.
“Di titik itu saya bingung. Tabungan habis bukan karena boros, tetapi karena kerjaan benar-benar berhenti,” kenangnya.
Kondisi itu memaksanya mencari celah baru. Dia menolak diam. Dalam situasi terdesak itu, dia teringat pada satu benda tua yang dulu hanya tergeletak di rumah orang tuanya, yakni mesin jahit bekas.
“Saya pikir, kalau ada alat, mungkin bisa dicoba. Walaupun saya sendiri tidak tahu menahu soal dunia tekstil,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Pada 2022 itulah Haearra lahir. Dia nekat merekrut karyawan untuk menjahit. "Nama merek Haearra ini diambil dari nama anak saya," ujarnya.
Berbeda dengan banyak UMKM rumahan yang memulai dari toko. Enrico dan Amanda justru langsung membawa produk pertama mereka ke platform digital Shopee. Mereka memasang foto sederhana, menuliskan deskripsi, dan menunggu hasilnya.



















































