jpnn.com - Dosen Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Hakimul Ikhwan mengatakan paparan ideologi radikal terhadap anak-anak di ruang digital perlu ditangani secara kolektif oleh sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat.
"Radikalisasi anak melalui ruang digital adalah masalah nyata, kompleks, dan menuntut kerja bersama," ujar Hakimul Ikhwan di Yogyakarta, Jumat (28/11/2025).
Hakimul menjelaskan bahwa paparan ideologi radikal tidak hanya menjangkau remaja, tetapi juga anak-anak berusia 10-18 tahun.
Kasus terbaru adalah yang terjadi di sebuah sekolah di Jakarta menunjukkan bagaimana internalisasi kekerasan bisa berujung pada tindakan ekstrem.
Dia menuturkan bahwa proses radikalisasi dapat dipetakan melalui tiga tingkatan.
Pertama, kelompok puncak yang memiliki pemahaman ideologis mendalam sehingga bertindak berdasarkan keyakinan tersebut.
Kedua, kelompok tengah atau "seekers" yang sedang mencari jati diri dan menjadi kelompok paling rentan dibentuk.
Ketiga, kelompok paling bawah yang jumlahnya terbesar, yakni mereka yang ikut karena lingkungan, rasa penasaran, atau kesenangan.






















































