Pasar Asemka Jakarta Barat makin sepi. Pedagang bertahan dengan jualan online dan mengikuti tren viral media sosial. (Foto: kompas.com)
KabarJakarta.com – Pasar Asemka di Tamansari, Jakarta Barat, kini tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.
Pusat grosir mainan dan suvenir legendaris itu terlihat lengang dari aktivitas pembeli.
Pada Selasa (30/12/2025), banyak pedagang hanya duduk menunggu pelanggan datang. Sebagian pedagang terlihat sibuk memainkan ponsel di dalam kios.
Setiap orang yang melintas tetap disapa dan ditawari dagangan. Di beberapa kios, kardus menumpuk berdampingan dengan etalase barang.
Sebagian pedagang tampak mengemas pesanan untuk pengiriman daring (online). Namun, hampir tidak ada transaksi langsung di lapak mereka.
Pedagang mengakui jumlah pengunjung menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu memaksa mereka beralih ke penjualan daring.
Aida (33), pedagang tas, merasakan perubahan besar suasana pasar. Ia mengaku melanjutkan usaha keluarga yang telah berdiri puluhan tahun.
“Sepi banget sekarang, dua tahun terakhir beda jauh,” ujar Aida.
Menurut Aida, jumlah pembeli langsung kini sangat terbatas. Pengunjung harian ke tokonya bisa dihitung dengan jari.
“Paling sepuluh orang sehari, itu juga sudah banyak,” katanya. “Selebihnya pembeli datang dari online,” tambah Aida.
Menyadari kondisi pasar, Aida mulai aktif berjualan secara online. Ia memanfaatkan platform marketplace seperti Shopee dan TikTok.
“Mau enggak mau belajar online supaya tetap jalan,” ujarnya.
Aida bahkan menambah jam kerja hingga malam hari. Ia melakukan siaran langsung karena pembeli lebih ramai pada malam hari. “Sekarang full ngandelin online,” kata Aida.
Ia mengaku pendapatan menurun jauh dibanding masa lalu. Dulu penghasilannya setara UMR Jakarta. “Sekarang setengahnya saja susah,” ungkapnya.
Kelesuan juga dirasakan Sahidi (48), pedagang mainan grosir. Ia telah berdagang di Asemka sejak 2018.
“Sekarang sepi parah, beda sama sebelum Corona (Covid-19),” kata Sahidi.
Sahidi bertahan dengan menjual mainan yang sedang viral. Ia menyesuaikan stok mengikuti tren media sosial.
“Kalau lagi viral, barang cepat laku,” ujarnya. “Tapi kalau trennya lewat, pembeli hilang,” sambung Sahidi.
Saat ini, ia mengandalkan penjualan gasing modern dan pernak-pernik tahun baru. Namun, ia membatasi jumlah stok karena persaingan ketat.
Sahidi menduga daya beli masyarakat menurun. Ia menilai pembeli kini lebih selektif membelanjakan uang.
“Sekarang orang jarang jajan kalau enggak perlu,” keluhnya.
Pedagang musiman kembang api, Dini (45), juga merasakan hal serupa. Ia berjualan di area luar Pasar Asemka.
“Stok masih banyak, akhir tahun ini sepi,” ujar Dini.
Dini menghindari menjual kembang api berharga mahal. Ia memilih stok produk dengan harga terjangkau.
“Saya fokus jual yang murah supaya gampang kebeli,” katanya.

2 weeks ago
40

















































