jpnn.com - Saya begitu ingin menulis soal ditemukannya uang ratusan miliar rupiah di sebuah kafe di Jakarta Selatan itu. Tapi saya sedang agak terisolasi sekarang ini. Saya sedang seperti seekor burung di sangkar emas.
Kamar saya ini begitu nyaman, besar dan agak mewah. Tapi saya tidak bisa berkomunikasi secara bebas. Sulit menggali bahan yang memadai untuk menulis kasus yang sangat panas di Jakarta itu.
Ilustrasi perang antardua kekuatan penegak hukum dengan temuan uang dalam brankas sebagai pusat konflik.--
Saya sedang di Rusia. Di bagian paling timur Rusia: Vladivostok. Arus informasi sedang dibatasi. Terutama sejak Rusia manyerang Ukraina --yang kemudian jadi perang berlarut.
Saya masih bisa menerima dan kirim WA tapi tidak bisa membuka dokumen, foto, atau video.
Saya agak telat tahu: menggunakan WeChat-nya Tiongkok lebih lancar. Saya pun mencoba berkomunikasi pakai WeChat. Tapi tetap saja sulit: tidak banyak sumber berita di Indonesia yang punya WeChat.
Saya pun disarankan pakai Telegram. Tapi sudah lama Telegram saya mati. Telegram itu saya install saat saya ke Kamboja dulu. Di sana semua orang pakai Telegram --sangat jarang yang pakai WA.
Maka untuk sementara saya jadi pembaca berita saja: sambil membayangkan betapa serunya peristiwa itu.

.jpeg)


















































