jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik menilai mundurnya Naniek S Deyang dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) justru membuka peluang bagi optimalisasi program makan bergizi gratis. Meski baru menjabat sekitar satu bulan, pengunduran diri Naniek pada 8 Juni 2026 itu dinilai banyak pihak sebagai langkah yang mengejutkan.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menyatakan bahwa kabar mundurnya Naniek bukan sekadar pergantian biasa, tetapi juga memicu spekulasi di kalangan publik. Ia meragukan alasan kesehatan yang dikemukakan Naniek sebagai penyebab utama pengunduran dirinya.
“Saya yakin banyak pihak tidak percaya kalau pengunduran dirinya karena alasan perawatan sakit jantung seperti yang dikemukakan,” ujar Fernando.
Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa ada faktor lain di balik keputusan tersebut, termasuk dugaan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah meminta Naniek mengundurkan diri. Hal itu berkaitan dengan jejak kepemimpinannya bersama Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung di BGN periode sebelumnya.
“Mungkin ada yang curiga bahwa pengunduran dirinya atas permintaan Prabowo Subianto karena memiliki 'dosa' masa lalu ketika masih bersama-sama memimpin BGN,” tambah Fernando.
Menariknya, Presiden Prabowo langsung menunjuk Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebagai pengganti Naniek. Menurut Fernando, kecepatan penetapan pengganti menunjukkan bahwa proses pergantian sudah direncanakan beberapa waktu sebelum pengumuman resmi.
“Melihat kesiapan tersebut, kemungkinan prosesnya sudah terjadi berapa waktu sebelum diumumkan pengunduran diri Naniek,” kata Fernando.
Ia berharap Sudaryono mampu membawa perubahan signifikan di tubuh BGN. Terobosan yang diharapkan mencakup ketepatan sasaran penerima manfaat, pemenuhan standar gizi dalam setiap menu MBG, serta pengawasan ketat untuk mencegah kebocoran anggaran.





















































