jpnn.com, JAKARTA - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah menjadi salah satu faktor penentu tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) Rully Arya Wisnubroto mengatakan keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro.
Sebab, hal tersebut yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” ucapnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (17/6).
Nah, kata dia, kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham
Menurut data yang dihimpun, IHSG pada pembukaan perdagangan selama seminggu terakhir tercatat berada di posisi 5.344,69 pada Selasa (9/6), lalu menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6), 5.899,27 pada Kamis (11/6), 5.960,27 pada Jumat (12/6), dan kemudian 6.118,73 pada Senin (15/6).
Rully menyatakan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound berkat dukungan implementasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih tegas serta deeskalasi ketegangan geopolitik.
BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen per 9 Juni lalu.






.jpeg)














































