jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya memprioritaskan pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), khususnya warga dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.
Program ini menjadi upaya pemkot untuk membuka akses kepemilikan hunian layak di tengah keterbatasan lahan dan tingginya harga properti di kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya Iman Krestian, menyatakan program ini memang ditujukan untuk kelompok masyarakat dengan penghasilan terbatas sesuai ketentuan pemerintah.
“Menurut Kementerian PKP, untuk lajang di kisaran Rp8,5 juta penghasilan take home pay. Kalau berkeluarga sekitar Rp10 juta. Di atas itu tidak diperbolehkan,” ujar Iman.
Rusunami ini akan dibangun di beberapa lokasi, di antaranya Ngagel dan Tambak Wedi, dengan tiga tipe unit, yakni 18 meter persegi (studio), 24 meter persegi, dan 36 meter persegi.
Untuk tipe studio, harga diperkirakan berada di bawah Rp200 juta. Harga tersebut lebih rendah dibanding rusunami sebelumnya karena dibangun di atas lahan milik pemerintah kota.
“Estimasi kami kunci di sekitar Rp200 juta ke bawah untuk tipe 18 meter atau studio,” katanya.
Selain harga yang lebih terjangkau, Pemkot juga menyiapkan skema pembiayaan dengan uang muka sekitar 5 persen, kemudian dilanjutkan cicilan.
















































