jateng.jpnn.com, BANJARNEGARA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa lambatnya progres pencarian korban longsor di Banjarnegara bukan karena kurangnya personel, melainkan kondisi medan yang ekstrem.
Retakan tanah lebih dari 2 kilometer membuat area evakuasi sangat terbatas dan berisiko tinggi.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan hal itu saat mendampingi Menko PMK Pratikno meninjau lokasi longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Selasa (18/11).
“Tanahnya masih bergerak. Karena itu pencarian belum bisa dimulai maksimal. Berbeda dengan Majenang, di sana tiap hari korban bisa ditemukan,” kata Suharyanto.
Di Majenang, Cilacap, dari total 23 korban, kini tersisa tujuh yang belum ditemukan. Sementara di Pandanarum, Banjarnegara, 26 warga masih hilang dan belum bisa dicari secara manual karena retakan terus melebar.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno memastikan pemerintah pusat mengerahkan semua sumber daya setelah mendapat perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“Negara hadir. Prioritas utama keselamatan warga dan kesehatan pengungsi. Tidak boleh ada korban tambahan,” tegasnya.
Pratikno menyebut pergerakan tanah membuat alat berat tak dapat bekerja bebas. Beberapa alat yang sebelumnya berada di Majenang pun sudah mulai digeser ke Banjarnegara, namun operasionalnya tetap harus sangat hati-hati.



















































