jpnn.com, JAKARTA - Di tengah dunia yang menghadapi perang, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan melemahnya solidaritas sosial, 1 Muharram mengajak umat manusia menengok kembali warisan Madinah sebagai model masyarakat yang adil, inklusif, dan bermartabat.
Hari ini dunia menyaksikan paradoks yang semakin nyata. Kemajuan teknologi berkembang sangat pesat, tetapi berbagai konflik kemanusiaan terus terjadi. Kekayaan global meningkat, tetapi kesenjangan sosial semakin melebar.
Informasi mengalir tanpa batas, tetapi empati dan kepedulian sosial justru mengalami kemerosotan. Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di muka bumi tidak terlepas dari perilaku manusia sendiri.
Allah SWT berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia"(QS. Ar-Rum: 41).
Dalam konteks demikian, Tahun Baru Islam tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan atau pergantian angka dalam kalender.
Momentum ini merupakan kesempatan untuk merefleksikan arah perjalanan umat manusia: ke mana sesungguhnya peradaban sedang bergerak? Apakah kemajuan yang dicapai semakin mendekatkan manusia pada keadilan dan kemanusiaan, atau justru menjauhkannya?
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah peradaban manusia.
Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis untuk menghindari tekanan dan penindasan, melainkan transformasi sosial yang melahirkan tata kehidupan baru yang berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.





















































