jogja.jpnn.com, SLEMAN - Teka-teki kemunculan puluhan titik api secara misterius di kediaman Mutfiana, warga Seyegan, Sleman, akhirnya menemukan titik terang.
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi menyatakan bahwa fenomena tersebut bukanlah kejadian alam yang anomali, melainkan dipicu oleh reaksi kimia dari residu limbah pemotongan ayam.
Setelah melakukan observasi intensif sejak 30 Mei 2026, tim pakar yang terdiri dari 18 akademisi lintas disiplin menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti kuat adanya aktivitas elektromagnetik atau Spontaneous Ignition (api yang menyala sendiri).
Dalam konferensi pers di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) UGM, Minggu (13/6), Ketua Tim UGM Prof Alva Edy Tontowi menjelaskan bahwa titik api muncul akibat adanya gas hidrogen yang dipicu oleh gas Pyrophoric hasil limbah pemotongan ayam di sekitar lokasi.
"Tim mendeteksi adanya gas hidrogen (H2) pada titik-titik munculnya api. Kami menemukan kandungan PVC (Polivinil Klorida) yang tidak umum di permukaan dinding dan keramik. Saat PVC terbakar, muncul gas Hidrogen Klorida yang kemudian terbaca oleh detektor sebagai gas hidrogen," jelas Alva, Senin (15/6).
Sepanjang proses investigasi, tim telah melakukan serangkaian pengujian canggih untuk membedah penyebab fenomena yang telah terjadi lebih dari 90 kali sejak 23 Mei lalu tersebut.
Menurut Elva, tim UGM telah memetakan kondisi bawah permukaan tanah, memeriksa residu kebakaran pada dinding dan material bangunan, mengobservasi spasial dalam radius 200 meter untuk mencari anomali termal, dan mengukur kandungan gas secara real time.
Hasilnya, seluruh data menunjukkan level normal. Tidak ada anomali termal maupun gas alam yang ditemukan di lokasi kejadian.


















































