Nasib Kontrak Impor Migas RI Seusai Selat Hormuz Kembali Dibuka

7 hours ago 15

Nasib Kontrak Impor Migas RI Seusai Selat Hormuz Kembali Dibuka

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ilustrasi kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. Foto: ANTARA/Anadolu/py

jpnn.com, JAKARTA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia tetap melakukan kontrak impor jangka panjang minyak dan gas bumi (migas) dari negara mitra, meski Selat Hormuz kembali dibuka.

Adapun saat perang antara Iran versus Amerika Serikat-Israel, Pemerintah Indonesia mencari sumber pasokan alternatif minyak selain dari Timur Tengah, seperti Rusia, Angola, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, dan Singapura.

“Soal impor minyak mentah, meski Selat Hormuz sudah dibuka, kami sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain,” ujar Bahlil ketika  di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6).

Namun, apabila terdapat harga yang lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan untuk membuka akses impor migas dari Timur Tengah.

Terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman juga menyampaikan pemerintah akan memprioritaskan impor migas dari negara dengan harga yang lebih kompetitif.

“Seperti yang sudah dikatakan Pak Menteri, semua alternatif kalau lebih kompetitif tentu akan diprioritaskan,” ujar Laode.

Terkait dengan prediksi harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) setelah pembukaan Selat Hormuz, Laode menyampaikan Indonesia menetapkan ICP dengan basis bulanan.

Oleh karena itu, Laode akan menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai penetapan ICP untuk bulan berikutnya.

Indonesia tetap melakukan kontrak impor jangka panjang minyak dan gas bumi (migas) dari negara mitra, meski Selat Hormuz kembali dibuka.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |