jpnn.com, JAKARTA - Ketua Dewan Nasional SETARA Institute Hendardi mengkritik penugasan taruna Akmil bagi peserta Sekolah Rakyat, karena mencerminkan cara pandang negara yang makin mengaburkan batas antara ranah sipil dan militer.
Hendardi mengatakan pemerintah seharusnya memperkuat institusi sipil dalam menjalankan fungsi pendidikan, ketimbang menjadikan militer sebagai instrumen pembentukan karakter.
"Ini adalah preseden yang berbahaya. Seakan-akan pembentukan karakter warga negara hanya bisa dilakukan melulu oleh militer," kata Hendardi melalui keterangan persnya, Rabu (1/6).
Dia mengatakan Sekolah Rakyat adalah program afirmasi pendidikan yang ditujukan bagi kelompok masyarakat yang menghadapi kerentanan sosial-ekonomi.
Menurut dia, pendekatan yang dibutuhkan ialah pedagogis, humanistik, dan partisipatif yang bertumpu pada ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, hingga voluntarisme sosial.
"Tidak ada kebutuhan objektif yang membenarkan pelibatan taruna militer dalam proses tersebut," ujar Hendardi.
Dia menyadari bahwa disiplin menjadi nilai penting dalam pendidikan, tetapi tidak identik dengan militer.
"Nasionalisme dan patriotisme warga negara penting. Namun, keduanya bukan hanya milik militer. Negara seharusnya tidak mengaburkan cara pandang tersebut," kata dia.





















































