jpnn.com, JAKARTA - Analis pasar finansial di broker Elev8, Kar Yong Ang, menilai perbandingan suku bunga antarnegara menjadi salah satu indikator yang paling relevan bagi pelaku pasar untuk membaca arah pergerakan nilai tukar dibandingkan hanya mengandalkan valuasi jangka panjang mata uang.
Dalam kajiannya, Kar menjelaskan analisis fundamental bertujuan mengukur nilai wajar mata uang berdasarkan faktor-faktor struktural yang memengaruhi nilai tukar.
Meski demikian, pendekatan tersebut lebih bermanfaat untuk memahami tren jangka panjang dibandingkan menjadi acuan transaksi harian.
Menurut Kar, salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengukur nilai wajar mata uang adalah Purchasing Power Parity (PPP).
Teori tersebut membandingkan harga barang yang sama di berbagai negara untuk menilai apakah suatu mata uang berada pada posisi terlalu mahal atau terlalu murah.
Kar mengatakan konsep PPP dapat memberikan gambaran awal mengenai valuasi mata uang. Namun, penerapannya memiliki keterbatasan karena didasarkan pada sejumlah asumsi, seperti perdagangan bebas, biaya transaksi yang rendah, dan tidak adanya hambatan pajak.
Selain PPP, pelaku pasar juga dapat menggunakan Effective Exchange Rate (EER) dan Real Effective Exchange Rate (REER) yang dikembangkan Bank for International Settlements (BIS).
Indikator tersebut mengukur nilai mata uang terhadap sejumlah mata uang mitra dagang dengan mempertimbangkan bobot perdagangan dan, pada REER, juga memperhitungkan perbedaan inflasi.





















































