jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Polemik internal yang melanda elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang diduga dipicu oleh konsesi tambang, menuai reaksi keras dari kalangan Nahdliyin.
Sekelompok warga NU alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan petisi terbuka yang menuntut PBNU mengambil langkah strategis untuk memulihkan marwah organisasi.
Mereka secara eksplisit menyatakan kegelisahan mendalam karena konflik ini telah mencederai kepercayaan publik dan dinilai bertentangan dengan komitmen historis NU terhadap keadilan sosial dan ekologis.
Heru Prasetia, salah satu perwakilan dari Warga NU Alumni UGM, menegaskan bahwa kebijakan tambang justru membawa dampak negatif.
"Tambang di PBNU itu belum berjalan, sudah membawa petaka internal," ujar Heru Prasetia dalam keterangannya kepada jurnalis di Yogyakarta.
"Kami sudah peringatkan dengan tegas bahwa keterlibatan NU dalam praktik bisnis ekstraktif berisiko menimbulkan konflik kepentingan, kerusakan lingkungan, dan penyimpangan dari mandat sosialnya,” imbuh dia.
Berdasarkan pertimbangan moral dan etika organisasi, petisi tersebut memuat beberapa tuntutan terbuka kepada PBNU.
Pertama, mereka mendesak PBNU segera mengembalikan konsesi tambang kepada pemerintah karena NU sebagai organisasi keagamaan tidak semestinya terlibat dalam bisnis yang berpotensi menimbulkan madharat dan konflik internal.


















































